Rabu, 18 November 2015

Mengukur Konsentrasi Pasar

Mengukur Konsentrasi Pasar
Dalam mengukur konsentrasi pasar, ada dua cara yang dipakai yaitu: cara pertama dengan menggambar kurva konsentrasi, kedua dengan cara menghitung koefisien Gini.
Mengukur konsentrasi pasar melalui kurva konsentrasi, maka dimisalkan data secara hipotesis tentang penguasaan pasar firm-firm besar dalam suatu industri seperti dalam tabel berikut:

Tabel Rasio Konsentrasi (CR) dari Firm-firm (Data Hypotesis dalam Persen)
Jenis Industri
Firm 1
Firm 2
Firm 3
Firm 4
Firm 5
CR 2
A
60
20
10
5
5
90
B
30
30
25
15
0
85
C
80
5
5
5
5
90
D
30
30
30
10
-
90
E
30
30
15
15
10
75
F
25
25
25
25
-
75
G
70
10
10
10
-
90
H
50
20
10
5
5
80

Berdasarkan tabel di atas, maka kurva konsentrasi dari masing-masing industri dapat digambar. Pada garis Horizontal menunjukkan jumlah firm dalam industri diakumulasi dari yang terbesar. Pada garis vertikal menunjukkan jumlah proporsi dari output industri. Misalnya untuk Industri A, Firm 1 adalah Firm yang terbesar menguasai pasar yaitu 60%, sedangkan firm 2 menguasai 20% pasar. Jadi jumlah ouput yang berada di tangan dua Firm top adalah 80%. Demikian semuanya dapat dihitung dua top firm di industri B dan seterusnya. Ke lima Firm top di Industri A menguasai 100% pasar. Demikian untuk Firm B dan seterusnya.
Kurva konsentrasi industri A dan D misalnya dapat digambar seperti gambar Grafik berikut

 


Kurva konsentrasi Industri A berbeda dengan kurva konsentrasi industri D. Kurva konsentrasi industri A menunjukkan firm top 1 menguasai 60% pasar, sedang firm 2 dan seterusnya masing-masing menguasai 20, 10, 5, 5 persen pasar. Sedangkan industri D tiga top Firm menguasai 90 % dan sisanya Firm 4 adalah 10%, sedang Firm 5 Nihil. Itulah sebabnya kurva konsentrasi industri D lebih cepat menyentuh penguasaan pasar 100%. Baik industri A maupun D memiliki konsentrasi yang sama dilihat dari tiga top Firm dalam industri itu menguasai 90% pasar. Distribusi kekuatan antar Firm menunjukkan bahwa di Industri D, distribusi kekuatan antara 3 firm top adalah sama yaitu 30% penguasaan pasar. Berbeda dengan di Industri A, di mana firm top 1 menguasai 60% pangsa pasar. Hal ini dapat berimplikasi pada strategi penetapan harga dan advertensi di mana industri A firm top 1 bisa menjadi price maker sedang firm-firm lain sebagai pengikut. Sedang di Industri D firm Top ada tiga yang memiliki kekuasaan yang sama.
Cara ke dua untuk mengetahui konsentrasi pasar dengan menggambar kurva Lorenz, dengan kurva mana kemudian dapat dihitung coeffisien Gini. Untuk bisa menggambar kurva Lorenz, dibutuhkan data dari semua firm yang ada dalam suatu industri.
Di garis Horizontal merupakan kedudukan titik-titik prosentase kumulatif dari firm terbesar dan berikutnya. Sedangkan di garis vertical tergambar prosentase penjualan atau output total industri. Kurva Lorenz selalu dimulai dari titik origin disebelah kiri bawah, dan berakhir di sudut kanan atas. Ini berarti 0% dari firm pasti memiliki 0% output yang tergambar di titik origin, sedang 100% dari firm-firm pasti memiliki 100% output yang itu terletak di titik sudut kanan atas. Jika misalnya kita memiliki data industri di mana semua firm di dalam industri itu ukuran yang sama, maka berarti kita memiliki kurva Lorenz berupa garis lurus yang menggambarkan adanya kekuatan sama yang absolut. Ini berarti 20% dari firm-firm memuliki 20% output, 50% firm memiliki 50% output dan seterusnya. Gambaran ini ada pada industri F sesuai tabel. Hal yang sangat berbeda terjadi di Industri G dimana penguasaan pasar antar Firm sangat tidak sama. Makin jauh Kurva Lorenz dari garis yang menunjukkan kekuatan sama absolut, maka makin tidak seimbang kekuatan antar firm dalam industri. Bandingkan kurva Lorenz industry F dengan Industri G seperti gambar berikut.


Makin jauh (makin ke kiri atas) kurva Lorenz dari garis kesamaan absolut maka makin tidak seimbang kekuatan atau makin pincang distribusi besaran firm dalam industri itu. Misalnya untuk Industri G, maka kurva Lorenz-nya menunjukkan besaran Gini koefisien sebesar luas area A (Area yang diarsir) dibagi dengan luas area A ditambah luas area B. Terlihat betapa tidak seimbangnya distribusi besaran Firm (Firm Size) dalam indutri G itu. Dalam kasus perusahaan monopoli dimana keseluruhan output hanya dikuasai oleh satu perusahaan, maka kurva Lorenz-nya membentuk area keseluruhan area ke kiri atas garis kesamaan absolut (Area A + area B). Dengan demikian berarti Gini koefisiennya adalah sama dengan 1 (satu). Jadi dapat disimpulkan apabila dalam industri itu semua firm memiliki Firm size yang sama, maka Gini koefisiennya 0. Sebaliknya bila terjadi monopoli, maka Gini koefisiennya adalah 1. Berarti besaran Gini koefisien adalah setara 0 dan 1.
Salah satu cara dalam menghitung Gini koefisien adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
            1
G =      --- Σ (N – 2i + 1) Si
            N

Di mana:
G    =   Gini Koefisien
N    =   Jumlah Firm
Si   =   Kontribusi Firm ke i dalam Industri

Dengan menggunakan rumus ini, maka perhitungan Gini koefisien masing-masing firm dalam industri adalah sebagai berikut:

                                    1
Industri A  :      G =   --- (5 – 2(1) + 1) 0,6 + (5 – 2(2) + 1) 0,2 + (5 – 2(3) + 1) 0,3 +
                                    5
                                    (5 – 2(4) + 1) 0,05 + (5 – 2(5) + 1) 0,05
                         
                                    1
                               =   --- (2.4 + 0,4 – 0,1 – 0,2)
                                    5
                                   
                                    1
                               =   --- (2,5) = 0,5
                                    5

                                    1
Industri B  :      G =   --- (4 – 2(1) + 1) 0,3 + (4 – 2(2) + 1) 0,3 + (4 – 2(3) + 1) 0,25 +
                                    4

                                    (4 – 2(4) + 1) 0,15

                                    1
                               =   --- (0.9 + 0,3 – 0,25 – 0,45)
                                    4

            =          0,125

Tidak ada komentar:

Posting Komentar